OPINI - THE BATMAN (2022)

Sepakat atau tidaknya para anasir suatu institusi dalam urusan vonis-memvonis hukuman mati sebagai ganjaran yang patut diterima oleh praktisi tabiat tak terpuji bernama korupsi, nyatanya kini masih berada di zona abu-abu. Sehingga benang merah yang menisik kondisi gamang yang hinggap pada mental setiap pemangku jabatan, dengan ihwal yang mengatasnamakan naluri nekat milik si penentang moral, yang mustinya dijahit rapi di atas alur bermotif keberpihakan--pun sampai pada detik-detik kritis belum kunjung menjumpai pangkal muaranya. Berorientasi pada ketidaktahuan yang mengakar di ruang logika para eksekutor, juga kita sebagai masyarakat madani yang tengah berusaha untuk meromantisasi kehidupan ini walau eksistensinya tidak signifikan--pastinya akan tersiar secuil tanda tanya yang menggarisbawahi ketepatgunaan dan efektivitas apabila implementasi tersebut ditetapkan. Lambat laun, fenomena barusan jelas bakal memantik gejala dari timbulnya persilangan pendapat yang menjadi determinan atas latar peristiwa, di mana batang tubuh kita ini seharusnya menetap. 

Mula-mula pertanyaan bertendensi remeh seperti; "Apakah dengan diberlakukannya hukuman tersebut akan meminimalisir indeks korupsi?." Lantas probabilitas jawaban yang akan keluar bisa jadi; "Tidak, hal tersebut masih belum memperlihatkan bukti yang riil dalam mengurangi angka korupsi." Mendengar jawaban yang terbit, mungkin sebagian dari kita akan sibuk sendiri dengan berbagai ketidakpastian dalam isi kepala, yang cepat atau lambat segera berkulminasi menjadi seuntai deklarasi seperti; "Sejatinya hukuman mati tidak diklasifikasikan sebagai sistem penegakan hukum yang jitu dalam memidana kasus apapun, tak terkecuali korupsi." Boleh jadi pro dan kontra yang beranak-pinak di kalangan sosietas masyarakat hanya semata-mata sebuah usaha untuk merengkuh sentimen positif massa, yang sengaja diprogram untuk meredam demonstrasi publik, lantaran praduga negatif mereka terhadap reputasi buruk dari segenap lembaga pemerintahan semakin kronis. Ungkapan tersebut selanjutnya akan mengerucut pada persoalan kompleks yang menyiratkan kenyataan bahwasanya masyarakat menginginkan ketentuan tersebut disahkan, bukan karena mereka punitif atau gemar main hakim sendiri. Melainkan pada hakikatnya, kita sebagai warga negara pasti sangat bergatung pada kesanggupan badan-badan hukum dalam mengambil tindakan dan memutuskan keputusan. Namun yang menjadi problematika akut di suatu negara adalah miskonsepsi perihal strata kekejaman hukum yang digembar-gemborkan dapat menimbulkan efek jera pada pelaku. Memang benar semakin parah kriminalitasnya, maka beban hukuman yang harus ditanggung semakin berat. Akan tetapi, masih banyak alternatif di luar sana yang lebih mutakhir. Salah satunya adalah dengan cara merehabilitasi sistem hukum yang masih mengekalkan kejahatan-tanpa-hukuman. Dengan harapan, usaha tersebut dapat mengurangi pertikaian yang memicu redupnya prinsip-prinsip hak asasi manusia.                
Pengkajian yang saya tulis panjang lebar di pararagraf pertama dan kedua, sebenarnya tidak dimaksudkan untuk menyuarakan petuah-petuah yang membuat anda mengerjapkan mata. Melainkan sekedar mengemukakan pendapat agar menjadi pengingat jikalau persepsi masyarakat terhadap tingkat kasus korupsi di beberapa negara (termasuk Indonesia) telah berkembang menjadi penyakit mematikan yang segera menggerogoti habis pilar-pilar ideologi yang susah payah dipondasikan semenjak negara tersebut merdeka. Sebab, bau busuk menyengat yang bersumber dari menterengnya kultur korupsi masih tiada henti menebar noda kenistaan hingga membabi buta, tanpa peduli apa-apa. Konon, keresahan serupa ternyata telah lama terindikasi di sebuah kota dengan papan nama Gotham City yang menurut ungkapan seorang penata komik tersohor, Dennis O'Neil--kota tersebut sudah tertimpa reruntuhan yang disebabkan oleh berbagai bencana kemanusiaan, seperti ancaman genting berupa tindak kejahatan yang pola operasinya dikontrol oleh uang dan bisikan iblis berdalih perenggutan kekuasaan. Walau politisi korup turut memberi cengkraman dalam gelap-gulitanya Gotham City. 

Korupsi dan otoritas ibarat sebuah kamera yang tak hanya bisa mengabadikan momen-momen indah dan penuh kebahagiaan. Lensa ajaib dari kamera juga sanggup menyuratkan kesedihan serta kesenduan, pun bukan tak mungkin untuk membangkitkan keambiguan. Begitulah keduanya. Kebahagiaan merujuk pada watak suatu otoritas yang diiringi oleh sebagaimana idealnya perwujudan subsistem-subsistem korupsi. Keambiguan tak lain mewakili evaluasi yang digagas oleh masyarakat sipil sehubungan dengan tindakan yang diambil oleh pemerintah dalam menangani kasus korupsi, yang serba tidak pasti. Korupsi selalu menyambut safari dari otoritas. Begitu juga di sisi lain, otoritas mengambil posisi sebagai "gerbang satu arah" bagi perangai tercela yang para pemangku jabatan itu lakukan. Menengok basis permulaanya, dalam The Batman, Matt Reeves (Cloverfield, Planet Apes Dwilogy) berniat mengintervensi sistem harmoni Gotham City, menanggalkan kekacauan, sampai-sampai tak membiarkan semilir angin kedamaian meniupkan karunianya, kemudian memulas sistem fungsionalnya dengan rona-rona kegalapan. Berkaca pada pengibaratan sebuah kamera, anda segera menyadari bahwa sisi yang ingin ditajamkan oleh si pembuat film adalah sisi kesedihan serta kesenduan atas penyebab dari suarnya bara api kultur korupsi. Disini, kesedihan serta kesenduan bukanlah penelanjangan dari definisi harafiah soal susutnya keadaan mental seseorang ketika berada dibawah tekanan. Tenang saja, hal ini akan tetap eksis. Namun, jembatan yang menghubungkan pernyataan barusan dengan situasi di lapangan bakal mengerucut pada tindakan lumrah seseorang terhadap eksesifnya tuntutan yang sebagaimana mestinya (atau sengaja?) dibebankan kepadanya. Respon yang meluap tentu adalah rasa khawatir, takut, sedih, depresi, murka, dan kemungkinan untuk berujung hilang kendali. Itu saja. Tidak ada spesifikasi tertentu yang memberi kegamblangan pada reaksi fisiologis atau semacamnya. Mengingat kembali bahwasanya penjelajahan psikis dalam kisah pahlawan super paling ikonik ini masih berada pada dimensi paling dasar dengan batasan kosong--yakni seputar tempramen sang karakter tituler beserta tandemnya dalam memerangi sesosok musuh baru. Sesosok manifestasi histeria. Sesosok yang sejatinnya berada dalam matlamat mulia, namun menempuhnya dengan cara menyimpang.

Berbagai cara kejam disertai taktik licik yang digunakan oleh sang aktor terorisme, Riddler (Paul Dano), dalam mengeksekusi rencananya patut terlebih dahulu saya acungkan jempol. Bukan maksud hati untuk meluhurkan terorisme, melainkan sebatas ekspresi decak kagum terhadap keterbuktian kiat-kiat durjana tersebut disaat ia mampu menimbulkan gejolak berupa kengerian fluktuatif, ancaman serius, juga perasaan waswas yang dialamatkan pada sang putra tunggal berdarah biru bernama Bruce Wayne (Robert Pattinson). "I'm vegeance" ujar Bruce dengan suara rendah cenderung berat pada salah satu sekuen perkenalan yang dibangun begitu intens seolah mengisyaratkan bahwa maksud kedatangannya bukan untuk tujuan damai. Meskipun suara itu terdengar muram dan tampak lirih, namun secara tersirat kita dapat meraba sebuah naluri kuat dan segenap tekad bulat dalam dirinya untuk menumpahkan segala dendam. Penuh teka-teki, misterius, main hakim sendiri, jenius, dan sadis adalah pemilihan kata yang tepat untuk menggambarkan Riddler, sang lawan utama. Dan penuh teka-teki adalah salah satu watak Riddler yang berperan sebagai jentera penggerak narasi, sementara efisiensi Bruce Wayne dalam memecahkan teka-teki, tensi meledak-ledak ketika membasmi musuh, sekaligus sifat naluriahnya untuk mengembalikan angin kedamaian pada Gotham City ikut memberi dukungan di ranah pengembangan perilaku. Pembentukan sifat naluriah itu bermula dari keikutsertaan Bruce beserta partner in crime-nya, James Gordon (Jeffrey Wright), seorang letnan depatermen kepolisian yang ingin naik pangkat--dalam kasus rentetan serial pembataian melibatkan kaum elit Gotham City yang didalangi oleh Riddler, sebagai aksi maut perdananya. Entah itu bentuk bantuan atau justru ancaman, Riddler dengan enteng menebar teka-teki misterius pada mayat-mayat segar tersebut yang metodenya ia kemas amat sederhana; aktivitas korespondensi. Maka siapa sangka, kata "To The Batman" akan menjadi siasat awalnya dalam menghancurkan tabir kokoh pelindung segala tindak kriminal kerah putih yang selama ini telah memporakporandakan variabel organisasi Gotham City. 

Komponen kesatuan struktural terorisme tersusun amat utuh dan dapat berakhir melahirkan sifat substansial dari berbagai alasan logis mengenai kompabilitasnya dengan strata hukum yang cenderung represif. Kendati permainan licik Riddler berada pada spektrum yang lebih luas, massa mempertanyakan beberapa hal terkait motif politisnya. Warna-warni distingsi politis turut menghiasi prinsip kausalitas yang mengkotak-kotakkan wawasan seseorang tentang teorema terorisme itu sendiri. Biarpun pada konsep realitas, motif politis tidak selalu bersifat material. Oleh sebab itu, variasi yang mengelilingi subjek pun tak dapat terelakkan. Menelaah pendirian ilmiah seorang Matt Reeves dalam satu garis besar juga merupakan keputusan mustahil. Karena jika menyelidiki lebih lanjut, derajat pemikiran manusia tentu mengalami fase-fase perkembangan--terus membawanya berdiri secara optimal dengan titik fokus yang lebih mementingkan karakteristik keilmuan. Dan apa yang kasat mata dalam The Batman, perbedaan antara wacana perihal terorisme dengan wacana yang meliputi kasus kekerasan politik sangat kontras.








 



 







  






   




Komentar